Kamis, 03 Februari 2011

Luka yang Berharga


Persahabatan dan cinta adalah sebuah hal yang berkaitan erat dalam hidup setiap orang, begitu pula dengan kehidupan ku dan sahabat-sahabat ku. Aku mempunyai delapan orang sahabat cewek, yaitu Sally, Taschya, Rayyan, Sabrina, Thalita, Putri, Bunga, dan Qorri. Kami sudah seperti saudara bahkan bisa dibilang keluarga kecil, kami saling tolong-menolong, memberi nasihat, memberi support satu sama lain, saling berbagi cerita, bercanda, tertawa, semua kita jalani bersama. Sejak SMP kelas 2 kita mulai akrab dan beruntung, aku masih di pertemukan bersama mereka di kelas 3 ini. Semua rasa kebersamaan, kekompakkan, dan kehangatan yang membuat aku tak ingin jauh dari mereka. Setahun sudah ku jalani kehidupan ku bersama mereka tanpa ada konflik yang membuat persahabatan kami terputus. Namun, di pertengahan kami di kelas 3 muncul masalah demi masalah dalam diri kami masing-masing. Kami jarang bersama lagi, sekarang lebih terlihat adanya rasa berkelompok (geng). Kehangatan, kekompakkan, dan kebersamaan kami selama ini lenyap entah kemana. Sampai suatu hari terjadi konflik di antara kami dan konflik terbesar adalah pertengkaran ku dengan Sabrina.
******
Malam itu saat Aku sedang asik nonton sinetron di kamar ku, tiba-tiba handphone ku bergetar, ku lihat ada sms yang masuk, Aku pun segera meraih handphone ku dan membuka pesan, ternyata pesan itu dari Sabrina.
“Sa, kamu lagi sibuk ga? Aku mau curhat nie sama kamu tentang Vino,” itulah bunyi sms dari Sabrina. Dan entah kenapa sikap malas ku tiba-tiba muncul dan ku putuskan untuk tidak membalasnya. Beberapa menit kemudian handphone ku bergetar lagi, ternyata pesan itu masih dari Sabrina.
“ Sa, bales donk, aku bener-bener lagi bingung ngehadepin sikap Vino, aku butuh bantuan kamu,” katanya.
 Tapi aku tetap tidak membalasnya, mood ku benar-benar sedang buruk saat itu, daripada ku paksa membalas dan aku malah emosi, urusannya kan bisa lebih gawat. Sebenarnya alasan utama aku tidak balas sms dari Sabrina karena aku kesal dengan sikap dan tingkah lakunya dia sekarang. Semenjak dia pacaran sama Vino, teman sekelas kami, dia jauh lebih mementingkan Vino, yang ada di pikirannya cuma Vino, Vino, dan Vino.  Hubungan mereka pun selalu diselimuti masalah yang menurut ku sama sekali tidak penting dan kamilah yang menjadi korban Sabrina.
******
            Keesokan harinya, aku berangkat sekolah seperti biasa. Ketika aku sampai di pintu gerbang, Sally datang menghampiriku.
            “Pagi, Sa,” sapanya.
“Pagi juga,“ balasku.
            “Oh iya, semalem kamu dapat sms dari Sabrina tentang masalahnya dengan Vino?” tanyanya.
            “Iya, tapi aku gak bales, dia sms kamu juga?” kataku.
            “Iya, kok gak di bales sih? Emang kenapa, Sa?” lanjutnya.
            “Aku bosen, Ly, setiap hari yang di omongin cuma Vino, Vino, dan Vino, makanya aku gak bales smsnya.” jawabku.
            “Tadinya aku juga gak mau bales, Sa, tapi aku gak tega, kasian juga tu anak,” katanya.
            “Kamu ini jadi orang terlalu baik, Ly,” balasku.
            “Haha..jadi GR aku,” jawabnya malu.
            Kami berdua pun tertawa.
******
            Sesampainya di kelas, aku dan Sally segera menaruh tas di bangku masing-masing. Kebetulan aku duduk bersebelahan dengannya dan kulihat sahabat-sahabat ku sedang asik ngerumpi, aku dan Sally pun menghampiri mereka.
            “Hey, lagi pada ngomongin apa sih? Kayaknya seru amat,” tanyaku.
            “Biasa si Sabrina,” balas Talitha.
            “Oh, dia,” jawabku malas.
            “Kamu tau dia putus sama Vino? Katanya dia sempet pacaran seminggu sama Andre kelas 9B. Terus dia balikan lagi sama Vino,” tanya Putri.
            “Gak tau,” jawabku acuh
            “Hah? Yang bener kamu gak tau? Biasanya kamu orang pertama yang tau kalau dia lagi ada masalah,” jawab Bunga.
            “Aku lagi males aja sama dia,” ucapku.
            “Sebenarnya aku juga udah males sama dia, abis semenjak dia pacaran, dia jadi lupain kita gitu,” ucap Sally.
            “Iya sih, tapi aku gak tega sama dia,” jawab Putri.
            “Aku udah kecewa sama sikapnya dia dan aku putuskan untuk gak ikut campur lagi dalam masalah pribadinya,” jawabku.
            “Kamu serius, Sa?” tanya Qorri.
            “Iya, buat apa aku bercanda. Kalian masih inget kan saat dia janji sama kita semua untuk mengubah dirinya menjadi seorang Sabrina yang baru?” tanyaku.
            “Iya, inget,” jawab mereka serempak.
            “Nah, tapi buktinya apa? Apa dia nepatin janjinya ke kita? Enggak kan?” jawabku sedikit emosi.
            “Iya ya, Sa. Aku baru sadar sekarang kalau dia masih punya janji sama kita untuk berubah jadi Sabrina yang baru, yang nggak egois, yang bisa menghargai orang lain, tapi sampai sekarang aku belum lihat perubahan itu terjadi di dirinya, malah makin hari sikapnya makin menjadi,” balas Sally.
            “Terus kita harus gimana, Sa ?” tanya Rayyan.
            “Entahlah,” jawabku.
            “Ssstt, anaknya dateng tuh,” ucap Bunga.
            “Kita bersikap seperti biasanya aja, biar dia gak curiga,” kata Putri.
            “Hai teman-teman,” sapanya dengan ekspresi sedikit tak bersemangat.
            “Hai juga,” jawab kami kompak.
            “Tadi kayaknya lagi ngomongin sesuatu, ngomongin apa sih?” tanyanya.
            “Harry Potter!”
            “Cinta Fitri!”
            “OVJ!” jawab Bunga, Rayyan dan Sally bersamaan.
            “Hah? Yang bener yang mana nih?” tanya Sabrina.
            “Yang mana aja boleh,” jawab Bunga.
            Sejenak kami terdiam. Tiba-tiba Sabrina memecahkan keheningan itu.
            “Teman-teman,” ucapnya.
            “Apa?” jawab kami kompak.
            “ Aku....” katanya ragu.
            “Aku apa?!” tanyaku ketus.
            “Aku udah putus sama Andre dan balikan lagi sama Vino,“ balasnya.
            “Kami semua udah tau itu,” ucap Rayyan.
            “Maksud kamu melakukan hal itu apa sih?” tanya Putri ketus.
            “Kalian jangan salah paham dulu, aku akan jelasin semuanya,” jawabnya.
Tiba-tiba bel tanda masuk berbunyi, kami segera kembali ke tempat masing-masing dan mengikuti pelajaran seperti biasanya.    
******
Sepulang sekolah, Sabrina meminta kami untuk berkumpul di kelas dan melanjutkan pembicaraan tadi pagi yang sempat terputus.
“Teman-teman, sebelumnya aku minta maaf karena aku udah ngerepotin kalian lagi dan melibatkan kalian dalam urusan pribadiku,” ucapnya.
“Gak papa, kita kan sahabat udah kewajiban kita untuk tolong menolong,” jawab Putri.
“Makasih banyak ya, karena kalian udah mau meluangkan waktu kalian untuk ku,“ balasnya.
“Iya, sama-sama,” jawab kami serempak.
“Rossa,” panggilnya.
“Kenapa?” tanyaku polos.
“Aku mau nanya sama kamu,“ ucapnya.
“Nanya apa?” jawabku.
“Hmm.. Aku ngerasa sikap kamu sama aku agak cuek akhir-akhir ini, kenapa, Sa?” tanyanya.
Sebenarnya aku kaget saat dia bertanya seperti itu tapi aku putuskan untuk jujur karena aku merasa ini waktu yang tepat dan kesempatan ku untuk mengungkapkan kekecewaan ku padanya.
 “Aku bingung dengan sikap dan tingkah laku kamu yang sekarang,” jawabku jujur.
“Ada yang salah sama sikap aku ke kamu, Sa?” tanyanya lagi.
“Gak ada,” jawabku singkat.
“Terus apa, Sa ?” tanyanya lagi.
“Kamu mau tau kenapa sikap aku cuek sama kamu?” tanyaku.
“Iya,” jawabnya.
            “Aku muak dengan sikap kamu, Sab!” kataku kesal.
 “Maksud kamu, Sa?” tanyanya bingung.
“Alah, gak usah pura-pura bego deh!” balasku dengan nada marah.
“A..aku bener-bener gak ngerti apa maksud kamu, tolong jelasin ke aku dan tunjukin dimana letak kesalahan ku,” katanya.
“Kamu masih nanya dimana letak kesalahan kamu?” tanyaku dengan nada tinggi.
“Sa, kamu tenang dulu kita bisa selesaiin ini baik-baik tanpa emosi,” ucap Taschya.
“Aku udah gak bisa nahan ini semua, Sya. Aku udah terlalu kecewa. Dan buat kamu, Sab, hal yang perlu kamu inget, aku gak akan pernah percaya lagi sama kamu dan aku gak akan ikut campur lagi masalah pribadi kamu,” kataku.
“Maafin aku, Sa,” ucapnya.
“Hah? MAAF?” tanyaku.
“Iya, maafin aku karena udah buat kamu kecewa,” jawabnya.
“Emang kamu tau dimana letak kesalahan kamu sampe kamu minta maaf sama aku?” tanyaku lagi.
“Aku gak tau dimana letak kesalahanku sebenarnya. Tapi, tadi kamu bilang kalau kamu udah terlalu kecewa sama aku, dan aku minta maaf untuk itu,” katanya.
“Udahlah, gak usah minta maaf, besok juga kaya gini lagi,” balasku.
“Sa, tolong jangan bersikap seperti ini sama aku. Tunjukin Rossa yang dewasa, bukan yang seperti ini,” katanya.
“Hellooooooooo...Selama ini yang gak dewasa itu siapa? Aku atau kamu?” tanyaku sinis.
“Aku, Sabrina Fitriana,” jawabnya.
“Nah, itu tau,” kataku sinis.
“Sa, aku mohon, maafin aku, buka sedikit pintu hati kamu untuk aku,” ucapnya.
“Aku rasa wajar kalau Rossa bersikap seperti ini sama kamu. Enggak cuma Rossa aja yang kecewa, tapi kami juga. Apa kamu lupa dengan janji kamu ke kami?” ucap Qorri.
“A..aku gak lupa dengan janji ku ke kalian semua dan sekarang aku baru sadar kalau untuk membuktikan itu semua sangat sulit gak seperti yang aku bayangkan,” jawabnya.
“Kalau kamu tau itu, kenapa kamu berulang kali ngucapin kata janji ke kami? Kamu anggap remeh semua ini. Asal kamu tau Sab, janji itu utang, dan utang itu akan membuat mu banyak berjanji,“ ucap Rayyan.
Kami semua terdiam. Tak pernah terbayangkan hal seperti ini mampu membuat persahabatan kami menjadi tidak karuan.
“Maksud kamu pacaran sama Andre terus balikan lagi sama Vino apa?” tanya Bunga tiba-tiba memecah keheningan.
“Aku putusin Vino karena aku ngerasa udah gak cocok sama dia dan besoknya Andre nembak aku, dan alasan aku nerima dia karena aku mau ngelupain semua kenangan yang pernah aku lewati sama Vino dan Andre juga mau bantuin aku,” jawabnya.
“Kalau kamu emang mau lupain Vino, kenapa kamu putusin Andre?” tanya Sally.
“Aku gak terbiasa dengan sikap cuek cowok, sebelum aku pacaran sama Andre, dia perhatian banget sama aku, tapi saat kita jadian dia berubah jadi cuek, dan aku gak terbiasa dengan itu,” jawabnya.
“Jadi, kamu terima Andre karena awalnya dia perhatian sama kamu, dan sekarang kamu putusin dia karena dia cuek sama kamu, gitu?” tanya Talitha.
“Iya,” jawabnya dengan perasaan tidak berdosa.
“Kamu tuh bego atau apa sih? Seharusnya kamu bersyukur karena Andre udah mau bantuin kamu buat lupain Vino dan dia juga rela jadi pelampiasan kamu karena dia tau kalau kamu masih sayang sama Vino,” kata Putri kesal.
“Aku udah coba itu, aku udah berusaha untuk menghilangkan perasaan ku sama Vino dan membuka hati aku sepenuhnya untuk Andre, tapi semua itu sia-sia, saat Andre perhatian, rasa sayang ku muncul, tapi saat perhatiannya hilang, rasa sayang itu pun hilang. Aku bener-bener butuh perhatian itu,” katanya.
“Kamu tuh harusnya belajar untuk bisa menerima orang lain apa adanya, menerima orang lain sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai diri orang lain,” ucap Sally.
“Di dunia ini gak ada yang sempurna, Sab, gak semua orang bisa jadi apa yang kamu mau. Jangan pernah menuntut orang, kalau kamu sendiri gak mau di tuntut,” kata Rayyan.
“Aku tau, tapi jujur sulit buat aku ngejalanin itu semua, terkadang aku suka iri ngeliat hubungan Rossa sama Rival yang jarang banget diselimuti masalah, gak kaya aku,” katanya.
“Sebenarnya kamu bisa, asal kamu emang ada niat untuk mengubah sikap kamu yang egois, kekanak-kanakkan dan mudah tergoda sama perhatian cowok,” ucap Bunga.
“Maksud kamu?” tanyanya.
“Iya, kamu tuh kalau ada cowok yang bilang suka dan perhatian sama kamu, kamu anggap serius dan kamu kasih harapan kosong ke dia,” kataku.
“Aku gak pernah ngasih harapaan kosong, Sa,” ucapnya.
“Gak apanya? Terus Aldo, Bayu, Rio, Haidar itu siapa?” tanyaku dengan nada tinggi.
“Mereka cuma teman, gak lebih. Memang mereka bilang kalau mereka suka sama aku, tapi aku gak ngasih harapan kosong ke mereka,” katanya.
“Mereka itu bukan teman kamu, tapi mereka itu korban dari kemunafikkan kamu. Kamu tuh cewek, jaga harga diri kamu didepan cowok, jangan mau di pandang rendah,” kataku marah.
“Seperti itukah aku di mata kalian semua?” tanyanya sedih.
“Maaf, Sab, tapi apa yang dibilang Rossa emang benar. Kita disini semuanya cewek dan kita harus bisa jaga harga diri kita di hadapan cowok,” ucap Taschya.
“Dan secepat itu juga pengisi hatimu berganti?” tanya Putri.
“Apa pelajaran yang kamu dapat selama ini kurang? Mau coba sesuatu yang jauh lebih menyakitkan?” tanya Qorri.
“Selama ini aku banyak belajar dari pengalaman aku, aku kadang berpikir kenapa aku sekarang jadi seperti ini,” katanya.
“Itu cuma maunya kamu. Kamu bilang kalau kamu gak mau jatuh ke lubang yang sama, tapi apa buktinya? Kamu sendiri yang menjatuhkan diri kamu ke lubang itu lagi,” kata Sally.
“Maafin aku teman-teman, aku udah buat kalian marah dan kecewa. Bantu aku untuk mengubah diri aku, aku mohon, gak ada lagi sahabat seperti kalian,” ucapnya dengan nada memohon.
“Yang bisa mengubah diri kamu hanya kamu,” kataku.
“Sa, aku mohon sama kamu, aku gak mau kehilangan orang seperti kalian, kasih kepercayaan kamu ke aku, kasih satu kesempatan itu lagi, bantu aku untuk merubah ini semua, aku janji aku akan berubah, aku mohon,” ucapnya sambil berlinang air mata.
 “Cukup. Jangan pernah kamu ucap janji lagi,” kata Sally.
“Maafin aku.Tolong, buka sedikit pintu hati kalian untuk aku, kita buka lembaran baru lagi, kita ulang semuanya dari awal,” katanya.
“Percuma kamu ngomong, aku gak akan pernah mengubah keputusan aku. Aku udah gak percaya lagi sama kamu, janji dan omongan kamu itu palsu,” ucapku.
“Apa yang harus aku lakuin untuk menebus kesalahan aku sama kalian? Aku akan lakuin apa yang kalian mau semampu aku, tapi aku mohon terima permohonan maaf aku,” katanya.
Kami semua terdiam. Tidak tau apa lagi yang harus kami lakukan untuk saat ini, hanya bingung yang menggeluguti hati dan pikiran kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar